Cara Mengatasi Perilaku Kasar dan Melawan (Agresif)

  • Posted on May 27, 2013 at 12:51 am

 

Definisa dan ciri-ciri perilaku agresif telah dijelaskan pada bab sebelumnya. NAh, sekarang bagaimana ya cara mengatasi perilaku agresif yang terjadi pada anak? berikut adalah beberapa uraiannya yang dikutip dari beberapa sumber:

1. Interaksi anak dan Orang Tua

Hubungan antara anak dengan orang tua merupakan bagian dari interaksisosial yang dilakukan anak dengan lingkungan keluarganya. Bonner (Gerungan, 1986: 57) merumuskan interaksi sosial sebagai hubungan antara dua atau lebih individu dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaikikelakuan individu yang lain ; atau sebaliknya. Berdasarkan rumusan tersebut terlihat bahwa dalam interaksi sosial terjadi hubungan timbal balik antara individu yang terlibat. Pada dasarnya, hubungan antara anak dengan orang tua merupakan hubungan yang timbal balik, sehingga dengan demikian, dalam usaha untuk menciptakan hubungan yang memuaskan kedua belah pihak, maka peranan orang tua maupun anak sangatlah besar (Singgih D. Gunarsa, 1989 : 144).

Kedua pendapat di atas menunjukkan bahwa kualitas interaksi antara anak dengan orang tua, dalam arti mereka sama-sama berperan, merupakan faktor penting yang mengekalkan sifat-sifat kepribadian dan motivasi yang diperlukan dalam belajar. Apabila interaksi tersebut berlangsung dengan baik, maka iklim kehidupan kelua rgapun akan berkembang dengan baik.

Dedi Supriadi (1985 : 84) mengemukakan bahwa interaksi antara anak dengan orang tua dapat dilihat melalui tiga aspek yang masing-masing mencakup sejumlah indikator. Apabila indikator-indikator tersebut ada, dan dirasakan oleh anak, maka interaksi yang terjadi dianggap berkualitas. Aspek-aspek tersebut adalah : (1) partisipasi dan keterlibatan, (2) keterbukaan sikap orang tua, dan (3) kebebasan untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan. Selain dari itu, Sunaryo Kartadinata, (1983 : 63) mengungkapkan bahwa iklim kehidupan keluarga yang menyenangkan akan dapat mengembangkan sikap toleran terhadap masalah, kerja sama, dan saling menghargai sehingga anggota keluarga mampu menempatkan dirinya dalam kehidupan psikologis anggota keluarga yang lain. Sikap seperti ini akan berkembang jika dalam keluarga terjadi komunikasi yang terbuka di antara para anggotanya.

Menurut Hurlock (1978 : 356), komunikasi yang terbuka atau respect terhadap pendapat orang lain seringkali melahirkan reasonable expectation di kalangan anggota keluarga. Pentingnya komunikasi dalam keluarga juga diungkap oleh Duvall (dalam Hurlock, 1978 : 356). Menurut Duvall, komunikasi dapat membuka perasaan, memelihara kesehatan mental, mendorong interaksi yang aktif antara anggota keluarga, dan mengembangkan kesadaran individu tentang perlunya sikap “mendengar dan menerima”. Anak yang terlatih dalam suasana kehidupan seperti ini akan lebih memahami keterbatasan orang tua dalam memenuhi kebutuhannya.

2. Interaksi anak dan guru di sekolah

Ketika anak berada di sekolah atau di Taman Kanak-kanak, anak juga berinteraksi dengan gurunya. Hurlock (1978 : 336) mengemukakan bahwa hubungan antara anak (siswa) dengan guru ditentukan oleh sikap guru terhadap anak dan sikap anak terhadap gurunya. Agar anak mempunyai persepsi yang positif, guru harus bersikap terbuka,jujur, dan menghargai anak. Sikap guru seperti ini akan menumbuhkan rasa aman dan percaya diri pada anak. Oleh karena itu, menurut Sunaryo Kartadinata (1983 : 76), situasi belajar harus merupakan situasi yang demokratis, dimana gagasan anak dihargai, dan timbulnya keragaman pendapat adalah sesuatu yang dapat diterima dalam mengembangkan dinamika pembelajaran. Guru harus sadar bahwa setiap anak itu berbeda kebutuhan, kemampuan dan kepribadiannya. Hasil studi yang dilakukan oleh Henry (dalam Sunaryo Kartadinata, 1983:74) menunjukkan bahwa pola prilaku guru yang membantu berkorelasi positif signifikan dengan kecenderungan siswa untuk bekerja sama, berpartisipasi dalam kegiatan kelas atau sekolah serta prestasi belajarnya. Selain dari itu, hasil studi Michael dan Powell (dalam Dedi Supriadi, 1985 : 154) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mendasari interaksi antara anak/siswa dengan guru adalah : (a) metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, (b) kepribadian guru, (c) kepercayaan anak/siswa terhadap guru, (d) adanya penghargaan yang baik, (e) tidak ada penekanan khusus dalam disiplin.

Singgih D. Gunarsa (1989 : 124) menyarankan agar guru tidak hanya mengembangkan potensi siwa secara intelektual, tetapi turut memperhatikan interaksi siswa dengan guru karena hubungan yang bersifat demokratis memungkinkan siswa untuk berkembang ke arah pribadi yang sehat dan matang.

Selain itu dalam sumber lain disebutkan solusi pemecahan masalah yang dapat dilakukan pendidik :

  1. Bermain peran
  2. Belajar mengenal perasaan
  3. Belajar berteman melalui permainan beregu
  4. Beri penguatan jika anak berperilaku tepat dengan temannya
  5. Perbanyak kegiatan yang menggunakan gerakan motorik

 

3.Interaksi Anak dengan Teman Sebaya

Hubungan antara anak dengan teman sebaya merupakan bagian dari interaksi sosial yang dilakukan anak dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya. Teman sebaya menurut Havighurst (1978:45) dipandang sebagai suatu “kumpulan orang yang kurang lebih berusia sama yang berpikir dan bertindak bersama-sama”. Pada usia sekolah, anak-anak mulai keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki dunia teman sebaya. Peristiwa ini merupakan perubahan situasi dari suasana emosional yang aman yang dalam hal ini hubungan yang erat dengan ibu dan anggota keluarga lainnya ke kehidupan dunia baru. Dalam dunia baru yang dimasuki anak, ia harus pandai menempaan diri di antara teman sebaya yang sedikit banyak

akan berlomba dalam menarik perhatian guru. Anak-anak hendaknya belajar memperoleh kepuasan yang lebih banyak dari kehidupan sosial bersama teman sebayanya. Melalui kehidupan sosial kelompok sebaya anak belajar memberi dan menerima., belajar berteman dan bekerja yang

semuanya itu dapat mengembangkan kepribadian sosial anak.

Vygotsky (Berk, L.E., & Winsler, A., 1995) menekankan pentingnya konteks sosial dalam proses belajar anak. Pengalaman interaksi sosial ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikir anak. Lebih lanjut, bahkan ia menjelaskan bahwa bentuk-bentuk aktivitas mental yang tinggi diperoleh dari konteks sosial dan budaya tempat anak berinteraksi dengan teman-temannya atau orang lain. Mengingat betapa pentingnya peran konteks sosial ini, Vygotsky menyarankan untuk memahami perkembangan anak, kita dituntut untuk memahami relasi-relasi sosial yang terjadi pada lingkungan tempat anak itu bergaul. Proses pembelajaran dalam kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya (Ahman, 1998:55). Anak-anak belajar caracara mendekati orang asing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau bersahabat. Ia belajar bagaimana memperlakukan teman-temannya, ia belajar apa yang disebut dengan bermain jujur. Seseorang yang telah mempelajari kebiasaan-kebiasaan sosial tersebut, cenderung akan melanjuannya dalam seluruh kehidupannya. Pengalaman anak berinteraksi sosial dengan anak lain dan bahkan dengan orang dewasa tidak saja memfasilitasi keterampilan anak dalam berkomunikasi dan sosialnya, tetapi juga turut mengembangkan aspek-aspek perkembangan lainnya, seperti perkembangan kognisi, emosi dan moralnya. Pergaulan sosial ini merupakan pengalaman hidup yang kaya dan alami bagi anak sehingga dapat mendorong segenap aspek perkembangan anak secara lebih terintegrasi dan menyeluruh. Melalui interaksi sosial, anak dapat berlatih mengekspresikan emosinya dan menguji perilaku-perilaku moralnya secara tepat. Begitu pula pengenalan anak terhadap pola pikir orang lain dapat memperkaya pengalaman kognisinya (Solehuddin, 1997: 46). Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, anak akan memilih anak lain yang usianya hampir sama, dan di dalam berinteraksi dengan teman sebaya lainnya, anak

dituntut untuk dapat menerima teman sebayanya. Dalam penerimaan teman sebayanya anak harus mampu menerima persamaan usia, menunjukkan minat terhadap permainan, dapat menerima teman lain dari kelompok yang lain, dapat menerima jenis kelamin lain, dapat menerima keadaan fisik anak yang lain, mandiri atau dapat lepas dari orang tua atau orang dewasa lain, dan dapat menerima kelas sosial yang berbeda.(Maccoby, 1980, Styczynski and Langlois, 1977 ) dalam Helms and Turner (1984: 223-224).

Faktor penting lainnya yang mempengaruhi perkembangan kelompok sosial iniadanya kepemimpinan sebaya (peer leadership). Dalam kelompok sosial ini seorang anak dianggap mampu memimpin apabila memiliki karakteristik-karakteristik kemampuan (intelektual) lebih, memiliki kemampuan berkuasa (uthoritarian) dan kemampuan mengendalikan (assertive) teman yang lain. (Hartup, 1978) dalam Helms and Turner (1984 : 224). Dalam pendekatan perkembangan, perolehan perilaku yang diharapkan terbentuk pada anak, dirumuskan secara komprehensif dan rumusan itu akan menjadi dasar bagi pengembangan program bimbingan.

Di dalam konsep bimbingan perkembangan, lingkungan belajar dirumuskan ke dalam konsep lingkungan perkembangan manusia atau ekologi perkembangan manusia. Suatu lingkungan perkembangan akan mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

1. Unsur peluang. Unsur ini berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan anak mempelajari perilaku-perilaku baru.

2. Unsur pendukung. Unsur ini berkaitan denganproses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk mempelajari perilaku baru baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Unsur pendukung ini berkaitan dengan upaya guru dalam pengembangan : (a) relasi jaringan kerja yang bisa menyentuh anak dan memungkinkan anak mengembangkan kemampuannya, dan (b) keterlibatan seluruh anak di dalam proses interaksi.

3. Unsur penghargaan. Esensi unsur ini terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukan perilaku baru. Penilaian dan balikan ini perlu dilakukan sepanjang proses bimbingan berlangsung; diagnosis dilakukan untuk mengidentifikasikan kesulitan yang dihadapi anak, dan perbaikan serta penguatan (reinforcement) dilakukan untuk membentuk pola-pola perilaku baru.

Dalam Surya (2004: 49 – 51) ada beberapa langkah pendekatan yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi perilaku anak suka agresif, antara lain:

1.      Jika melihat anak secara langsung bersikap agresif terhadap temannya, berusahalah untuk mencegahnya dengan tanpa menyinggung perasaan anak.

2.      Kita harus memperlakukan anak dengan sabar, kita tidak boleh bersikap agresif menghadapi anak yang suka agresif.

3.      Dengarkan suara hati anak.

4.      Ajarkan pada anak cara bergaul dengan baik dan menyenangkan.

5.      Kita bisa mendampingi dan mengawasi anak saat bermain bersama teman atau saudaranya.

6.      Kita bisa membatasi jumlah teman bermain anak.

7.      Ciptakan suasana kebersamaan dalam keluarga.

8.      Damping anak ketika nonton TV

Dalam (Sobur, 1987) dijelaskan bahwa untuk menanggapi sikap agresif anak-anak, kita perlu melacak dua macam jalan keluarnya. Pertama, bagaimana mengurangi sikap agresifnya pada saat ini. Sedangkan jalan keluar yang lebih berjangka panjang adalah mencegah timbulnya sikap agresif dimasa yang akan datang. Apapun yang dipilih untuk menyalurkan dorongan agresifnya ini, tetap berarti bahwa dorongan agresif itu sendiri harus disalurkan dengan sebaik-baiknya. Perbuatan orangtua untuk setiap kali menyuruh diam anak-anak yang sedang bertengkar, atau menghukum anak setiap kali habis berkelahi dengan temannya adalah kurang bijaksana.

Ada beberapa cara untuk menghadapi anak yang suka agresif di depan umum.

  1. Perlu adanya pengertian dan kesabaran orangtua.
  2. Tidak perlu dengan cara kekerasan fisik. Tenangkanlah anak dengan pelukan. Tanyakan kepadanya apa yang ia inginkan dan pastikan kepadanya bahwa orangtua akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya.
  3. Apabila orangtua memiliki acara untuk pergi ke luar rumah sebelum berangkat orangtua membuat perjanjian dulu dengannya. Hal ini perlu dilakukan supaya anak mengerti dan dapat menjaga sikap ketika ia sedang berada di depan umum. Bicarakanlah konsekuensinya apabila anak melanggar janji. Namun, jika anak mampu menjaga sikapnya dengan baik di depan umum maka tidak ada salahnya orangtua memberikan pujian, pelukan, ciuman, atau mungkin memberikan hadiah kecil yang ia sukai .
  4. Jika agresifitas itu ke hal yang positif, cara mengatasinya, biarkan saja si anak melakukan apa yang di inginkannya tapi perlu pengarahan, pengawasan dan jangan terlalu banyak melarang kemauannya yang positif, takutnya justru “membunuh” kreatifitas dan daya imajinasinya karena anak seusia ini lagi dalam proses penjajakan lingkungan, penyesuain diri, mungkin bisa di bilang masa “puber” anak balita”, yang bisa kita lakukan hanya meminimalkan efeknya.
  5. Bertingkah agresif yang mengarah ke kreativitas anak boleh saja (tidak terhitung barang – barang di rumah yang rusak oleh anak-anak), tapi memukul, menyakiti orang lain dan bersikap tidak sopan adalah lain soal. Juga, kalau merusaknya karena mereka curious, karena rasa keingintahuannya tidak masalah. Misalnya karena anak ingin mengetahui apa jadinya kalau es lilin dimasukkan ke dalam gelas yang berisi teh? Tapi kalau sengaja membanting gelas karena marah atau karena kemauannya tidak dituruti, itu berarti ada masalah besar dengan si anak.
  6. Larangan bermain bersama. Anak yang sudah terlihat gejala agresif mereka kita kelompokkan tersendiri.
  7. Untuk memperbaiki perilaku agresif bukannya dicampur dengan anak yang kalem, apalagi kalau anak kalem itu lebih introvert, dengan harapan yang agresif akan jadi kalem. Barangkali tidak begitu, justru akan menyebAnak berkebutuhan khususan rasa tidak aman bagi perkembangannya.

sumber:

Sobur, Alex. 1987. Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Surya, Hendra. 2004. Kiat Mengatasi Perilaku Penyimpangan Perilaku Anak (Usia 3 – 12 Tahun). Jakarta: PT Elex media Komputindo.

http://agusria.wordpress.com/2011/03/07/perilaku-kasar-dan-melawan-agresif/

Leave a Reply

Switch to our mobile site